July 17, 2026
BREAKING

OpenAI Smart Speaker ‘Humanlike’: Ambisi Hardware di Tengah Pasar Anjlok

OpenAI smart speaker

AMERIKA SERIKAT, YouBlip – OpenAI, perusahaan kecerdasan buatan terkemuka, dikabarkan tengah menyiapkan peluncuran perangkat keras perdananya, sebuah smart speaker “humanlike” berbasis model suara GPT-Live-1, pada Juli 2026. Langkah ini diambil di tengah pasar smart speaker global yang sedang lesu dan kondisi keuangan OpenAI yang masih merugi, memunculkan pertanyaan besar tentang strategi perluasan ekosistem AI ke perangkat keras.

Rencana peluncuran OpenAI smart speaker ini muncul saat pasar perangkat tersebut mengalami penurunan signifikan selama beberapa tahun terakhir. Data dari IDC menunjukkan pengiriman smart speaker global anjlok 16,3% pada 2023 dan diperkirakan akan turun lagi 9,6% pada 2026 sebelum stagnan. Volume pengiriman yang semula di atas 100 juta unit pada 2022 kini hanya mencapai puluhan juta per tahun.

“Dalam hal tren, pasar sudah melambat cukup lama, dan kami memperkirakan penurunan di tahun mendatang,” kata Jitesh Ubrani, Director Worldwide Device Trackers IDC. “Membuat perangkat itu tidak sulit, tetapi mencapai skala massal jauh lebih sulit karena pemain lama sudah mapan, dan kategori ini tidak banyak berevolusi.”

Selain pasar yang menyusut, tantangan lain bagi OpenAI smart speaker adalah harga. Mayoritas konsumen mencari smart speaker dengan harga terjangkau di bawah Rp1.600.000. Perangkat premium seharga Rp4.800.000, seperti yang mungkin ditawarkan OpenAI dengan teknologi canggihnya, cenderung ditolak pasar.

“Smart speaker selama bertahun-tahun adalah perangkat berbiaya rendah. Tidak ada yang melihat ini sebagai kategori premium. Banyak orang akan keberatan membayar Rp4,8 juta untuk sebuah speaker,” tambah Jitesh Ubrani.

Kondisi finansial OpenAI sendiri masih jauh dari stabil, menambah beban risiko pada proyek OpenAI smart speaker ini. Perusahaan yang dipimpin Sam Altman tersebut mencatat kerugian Rp82,5 triliun pada 2024 dan diproyeksikan merugi Rp624 triliun pada 2025, dengan target profitabilitas baru tercapai pada 2030. Bahkan raksasa teknologi seperti Amazon dan Meta telah merasakan pahitnya pasar smart speaker; Amazon rugi Rp48,6 triliun dari unit Alexa pada Q1 2022, sementara Meta menghentikan produksi Portal dan melakukan PHK besar pada 2022.

Mantan eksekutif OpenAI yang kini CEO Instacart, Fidji Simo, pada musim semi 2026 sempat memperingatkan bahwa “OpenAI berisiko kehilangan momennya karena terlalu sibuk dengan ‘side quests’.” Peringatan ini relevan mengingat proyek OpenAI smart speaker ini membutuhkan investasi besar dan merupakan pengembangan di luar fokus utama mereka pada model bahasa.

Meski demikian, OpenAI memiliki visi ambisius di balik langkah ini. Mereka percaya AI tidak bisa hanya terkunci di peramban, melainkan harus “memahami dunia sekitar untuk benar-benar membantu,” dan perangkat keras adalah jalannya. Smart speaker ini dirancang dengan kamera, sensor, baterai isi ulang, dan elemen mekanis bergerak, didukung GPT-Live-1 yang menjanjikan percakapan lebih alami dan terjemahan langsung.

“Model ini memungkinkan percakapan lebih alami, menjaga sense of time lebih baik, dan bahkan melakukan terjemahan langsung,” terang pernyataan resmi dari OpenAI mengenai kapabilitas GPT-Live-1.

Langkah OpenAI ke pasar smart speaker jelas merupakan taruhan besar. Dengan pasar yang stagnan dan keengganan konsumen pada harga premium, keberhasilan proyek ini akan sangat bergantung pada seberapa revolusioner pengalaman “humanlike” yang ditawarkan dan kemampuan OpenAI mengatasi tantangan finansial. Untuk data lebih lanjut mengenai tren perangkat global, Anda bisa mengunjungi situs International Data Corporation (IDC).