November 3, 2026
BREAKING

Ekonomi Global 2026 Melambat, IMF Pangkas Proyeksi Jadi 3%

Pertumbuhan Ekonomi Global 2026

WASHINGTON D.C., YouBlip – Dana Moneter Internasional (IMF) pada 8 Juli 2026 merilis laporan World Economic Outlook edisi pertengahan tahun, memangkas proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Global 2026 menjadi hanya 3%. Revisi ini disebabkan oleh kombinasi kebijakan tarif dagang yang kian ketat, eskalasi konflik di Timur Tengah, serta lonjakan investasi pada kecerdasan buatan () yang belum sepenuhnya mendorong produktivitas nyata. Seiring dengan perlambatan ini, inflasi global diperkirakan akan naik ke kisaran 3,4%–4,7%.

IMF sebelumnya memproyeksikan Pertumbuhan Ekonomi Global 2026 sebesar 3,1%, namun kini menurunkannya menjadi 3%. Angka ini menempatkan ekonomi dunia dalam fase “ekspansi berkelanjutan” yang lambat, berada di bawah rata-rata historis 3,7% dari tahun 2000–2019. Untuk tahun 2027, IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi akan sedikit naik menjadi 3,4%, sementara inflasi diperkirakan mereda menjadi 3,9%.

Perlambatan Pertumbuhan Ekonomi Global 2026 ini juga dipengaruhi oleh harga energi yang tinggi, di mana minyak mentah diproyeksikan rata-rata USD 89 per barel sepanjang tahun. Gangguan ini, bersama dengan konflik di Timur Tengah dan kebijakan tarif yang meluas, telah memberikan tekanan signifikan pada rantai pasok dan biaya produksi global. Pertumbuhan perdagangan global juga diperkirakan melambat menjadi 3,5% pada 2026 dari 5% pada 2025.

“Ekonomi dunia telah mengatasi guncangan akibat perang lebih baik daripada yang dikhawatirkan sejauh ini,” kata Petya Koeva Brooks, Wakil Direktur Departemen Riset IMF.

“Gangguan berkepanjangan di pasar energi global akibat konflik di Timur Tengah memberikan dampak yang lebih besar dari perkiraan terhadap perekonomian kawasan,” kata Albert Park, Kepala Ekonom Asian Development Bank (ADB).

Di tengah tantangan Pertumbuhan Ekonomi Global 2026, ekonomi Indonesia diproyeksikan menunjukkan ketahanan dengan pertumbuhan 5,2%, menjadikannya tertinggi kedua di ASEAN setelah Vietnam (7,2%). Kinerja positif ini didorong oleh konsumsi domestik yang kuat dan investasi di sektor digital yang terus berkembang.

Namun, sejumlah risiko utama tetap membayangi Pertumbuhan Ekonomi Global 2026, termasuk fragmentasi perdagangan, konflik geopolitik yang belum mereda, koreksi ekspektasi berlebihan terhadap dampak investasi , serta defisit fiskal yang tinggi di banyak negara maju dan berkembang. Tekanan inflasi yang persisten juga diperkirakan akan menahan tren penurunan suku bunga global, membuat kebijakan moneter tetap berhati-hati.