JAKARTA, YouBlip – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melesat signifikan 4,2% sepanjang pekan kedua Juli 2026, bahkan sukses menembus level psikologis 6.100 pada 19 Juli 2026 di Bursa Efek Indonesia. Kenaikan IHSG 6.100 ini dipicu oleh aksi beli bersih jumbo investor asing senilai Rp7,8 triliun, terutama pada saham-saham perbankan big caps, serta sentimen positif stabilisasi suku bunga The Fed.
IHSG berhasil ditutup pada level 6.103, mengalami kenaikan 4,2% dibandingkan pekan sebelumnya. Keberhasilan ini mendorong kapitalisasi pasar di pasar modal menembus angka Rp10.749 triliun, yang merupakan rekor tertinggi sejak awal tahun 2025. Aliran dana asing yang masuk tercatat sangat besar, mencapai Rp7,8 triliun dalam sepekan, menandai net buy terbesar sepanjang 2026 dan menjadi motor utama penguatan IHSG 6.100.
Saham-saham perbankan buku IV menjadi primadona bagi investor asing. Tercatat, saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) naik 5,1%, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) menguat 4,7%, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) naik 4,3%, dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) tumbuh 3,9%. Pergerakan positif ini menunjukkan kepercayaan pasar terhadap fundamental emiten perbankan dan turut menopang euforia IHSG 6.100.
Rata-rata volume transaksi harian juga menunjukkan peningkatan signifikan, mencapai Rp15,2 triliun, atau naik 18% dari pekan sebelumnya. Hal ini mencerminkan aktivitas perdagangan yang lebih bergairah di pasar. Meskipun demikian, Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia, I Gede Nyoman Yetna, mengingatkan investor untuk tetap waspada terhadap potensi aksi ambil untung (profit taking) setelah kenaikan pesat IHSG 6.100 ini.
“Kenaikan IHSG yang melesat ke 6.100 pekan ini sangat ditopang oleh masuknya dana asing ke saham-saham perbankan besar. Namun investor tetap harus waspada terhadap potensi aksi ambil untung,” kata I Gede Nyoman Yetna, Direktur Penilaian Perusahaan BEI.
“Level 6.100 adalah psikologis penting. Jika net buy asing berlanjut, IHSG bisa menembus 6.200. Tetapi jika terjadi profit taking, koreksi wajar bisa terjadi di kisaran 5.950–6.000,” kata Aviliani, Ekonom Senior.
“Sentimen global dari stabilisasi suku bunga The Fed memberi ruang bagi investor asing untuk masuk. Ini momentum positif bagi penguatan IHSG 6.100 dan pasar modal Indonesia,” kata Hans Kwee, Direktur Anugerah Sekuritas.
Ke depan, sentimen global dari stabilisasi suku bunga The Fed dan harga komoditas yang mendukung tren positif masih akan memengaruhi pergerakan IHSG. Potensi penguatan lebih lanjut ke level 6.200 terbuka lebar jika aksi beli bersih asing terus berlanjut. Namun, investor tetap perlu mencermati kemungkinan aksi ambil untung pada level IHSG 6.100, yang dapat memicu koreksi wajar.
Saham-saham perbankan big caps seperti BBCA dan BBRI diperkirakan akan tetap menjadi motor utama pergerakan indeks. Kapitalisasi pasar juga berpotensi menambah Rp100–150 triliun jika tren positif ini dapat dipertahankan. Konsolidasi harga pada sektor komoditas yang masih tertekan juga perlu diperhatikan untuk melihat arah pergerakan IHSG setelah menembus 6.100.
Dengan euforia kenaikan IHSG 6.100 yang dipimpin oleh investor asing, pasar modal Indonesia menunjukkan resiliensi. Meskipun demikian, kewaspadaan terhadap profit taking tetap krusial agar investor dapat mengambil keputusan yang tepat di tengah volatilitas pasar.






