November 3, 2026
BREAKING

Resiliensi Ekonomi Indonesia Kokoh: Tumbuh 5,61% di Tengah Gejolak Global

Resiliensi Ekonomi Indonesia

Jakarta, YouBlip – Pemerintah Indonesia menegaskan resiliensi ekonomi Indonesia tetap kokoh di tengah gejolak global, ditandai pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) triwulan I-2026 sebesar 5,61% (y-on-y). Data resmi Badan Pusat Statistik (BPS) pada 5 Mei 2026 menunjukkan upaya menjaga daya beli masyarakat dan ketahanan ekonomi domestik melalui percepatan belanja APBN sejak Januari 2026, meskipun nilai tukar rupiah melemah hingga Rp18.000 per USD. Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Presiden Prabowo Subianto, dan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa terus memantau kinerja ekonomi nasional hingga pertengahan Juli 2026.

Pertumbuhan PDB sebesar 5,61% pada triwulan I-2026 ini menunjukkan fondasi ekonomi Indonesia yang kuat. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai PDB atas dasar harga berlaku mencapai Rp6.187,2 triliun, sementara atas dasar harga konstan sebesar Rp3.447,7 triliun. Sektor penyediaan akomodasi dan makan minum menjadi lapangan usaha dengan pertumbuhan tertinggi, mencapai 13,14%, menandakan optimisme di sektor pariwisata dan jasa.

Pengeluaran pemerintah menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi dengan melonjak 21,81% (y-on-y), didorong oleh percepatan belanja APBN untuk perlindungan sosial dan ketahanan pangan. Selain itu, neraca perdagangan Indonesia masih menunjukkan surplus kumulatif USD 4,03 miliar (Rp72,5 triliun) dari Januari hingga Mei 2026. Inflasi nasional juga berhasil dikendalikan dalam kisaran 2,5% ±1%, mendukung stabilitas daya beli masyarakat.

“Kalau kita lihat pertumbuhan ekonomi kemarin kan masih baik di 5,61%. Lalu, neraca perdagangan year to date juga masih positif,” kata Airlangga Hartarto, Menko Perekonomian RI.

Kinerja sektor keuangan juga mencerminkan resiliensi ekonomi Indonesia. Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan nasional tumbuh 13,47% yoy menjadi Rp10.294 triliun, diikuti kenaikan penyaluran kredit sebesar 11,51% yoy menjadi Rp8.918 triliun. Hal ini menunjukkan kepercayaan masyarakat dan dunia usaha terhadap stabilitas ekonomi. Saldo Bersih Tertimbang (SBT) dunia usaha juga naik menjadi 12,97% pada triwulan II-2026, mengindikasikan prospek usaha yang positif.

“Pertumbuhan ekonomi triwulan I 2026 ditopang konsumsi rumah tangga yang tumbuh 5,52% dan konsumsi pemerintah yang melonjak 21,81%,” kata Bank Indonesia dalam siaran pers 5 Mei 2026.

Dengan proyeksi pertumbuhan di kisaran 5–5,4% sepanjang 2026, pemerintah optimis Indonesia mampu menjaga momentum pertumbuhan. Perlindungan sosial, ketahanan pangan, serta dorongan konsumsi rumah tangga dan investasi menjadi kunci utama dalam menjaga stabilitas dan resiliensi ekonomi Indonesia ke depan.